Sunday, December 6, 2015

Hilang sewaktu umrah ! (2)

Sebelum kami memasuki arena thawaf, Pak ustadz memberi arahan. "Nanti, setelah selesai semuanya berkumpul di pelataran ini untuk shalat dua rakaat dan kita akan melakukan sa'i bersama sama", katanya. Di arena thawaf, kami ditunjukkan adanya lampu neon hijau yang menjadi tanda dimulainya thawaf Dari situ kami semua memulai putaran pertama dan memulai hitung untuk putaran selanjutnya.

Sambil memulai berjalan, kami mengikuti bacaan thawaf yang diucapkan Pak Ustadz. "Bismillahi Wallhuakbar!" sambil mem-blow kiss dengan tangan ke arah hajar aswat (romantis yaa...). Suhu malam yang saya kira dingin sewaktu di luar masjidil haram, ternyata terasa biasa saja di pelataran thawaf. Lantai marmer berwarna putih yang kami pijak, juga dingin tetapi tidak sampai menusuk ke tulang. Crane crane yang menjulang tinggi terlihat beberapa yang masih melakukan aktivitas pembangunan perluasan mesjid.

Sambil berjalan dan membaca doa kami juga diminta Pak Ustadz untuk membaca artinya dan memahaminya dalam hati. Dengan harapan doa bacaan tersebut bisa kita resapi maknanya Saya berjalan mengapit dengan bude dan ibu sambil sibuk mencari halaman bacaan di buku yang kadang teracak akibat multitasking job, yaitu mengikuti bacaan Pak Ustadz, menjaga barisan agar tidak terlalu cepat dari rombongan, dan memperhatikan lalu lintas thawaf.

Walaupun cara untuk thawaf adalah memutari ka'bah searah dengan jarum jam. Namun banyaknya jamaah yang ingin mendekati ka'bah atau keluar dari jalur membuat kita harus penuh toleransi. Saya berprinsip untuk lebih banyak mengalah saja dan memberi jalan, dibanding buru buru menyelesaikan thawaf tetapi tidak menikmatinya. Toh, ini bukan lomba dimana ada yang menang atau kalah bukan? 

Langkah demi langkah kami jalani bersama. Perlahan tapi pasti. Lampu hijau, maqam Ibrahim adalah tanda untuk kami telah berputar sebanyak satu putaran. Semakin lama, terkadang lepas juga saya dari buku dan konsentrasi bacaan yang diucapkan Pak Ustadz. Banyaknya jamaah yang melakukan thawaf terkadang mengalihkan fokus saya. Saya jadi tahu bahwa untuk melakukan thawaf, tidak harus di arena ini. Saat ini sudah ada beberapa ring yang dibuat bertingkat tingkat untuk melakukan thawaf. Intinya sama saja, melakukan putaran sebanyak tujuh kali dengan rukun, niat, dan bersuci. Ohiya, satu putaran thawaf, setara dengan satu rakaat shalat, lho.

Untungnya saya sudah membaca buku karangan Agus Mustofa yang berjudul "Pusaran Energi Ka'bah". Disitu diceritakanlah bahwa makna dari tujuh putaran bak jumlah langit yang diciptakan Allah swt. Sehingga seharusnya, semakin kita akan menyelesaikan thawaf, maka akan timbul rasa sangat dekat dengan Allah. Tips dari yang sudah umrah, jika sudah lepas dari konsentrasi bacaan, baca saja dalam hati doa sapu jagat, keselamatan dunia akhirat, kesehatan, dan orang tua. 

Alhamdulillah Allahuakbar. Tujuh putaran sudah kami lakukan malam itu. Kami memgambil posisi masing masing untuk shalat dua rakaat. Para jamaah perempuan di baris agak depan. Dan kami shalat di bagian belakang. Untuk pria, ketika shalat, ternyata kain ihram menutupi kedua pundak. Karena kalau kebuma satu hukumnya makruh. Saat itu, kami menghadap tepat di depan pintu ka'bah. Tenang sekali rasanya.

Usai dari shalat, saya mengumpul dengan jamaah pria di pinggiran dekat sebuah tong yang berisi air zamzam. Kemudian para jamaah wanita menghampiri kita. Pak Ustadz kemudian menghitung jamaahnya untuk kemudian akan dibawanya ke arena Sa'i. Ketika kami hitung, jumlah jama'ah kami kurang satu.  Astaga, semua panik sejadi jadinya. Mengapa?

Karena jamaah yang hilang adalah seorang ibu yang berumrah tidak dengan muhrimnya. Mengingat hal ini diperbolehkan untuk perempuan di atas 40 tahun. Kedua, si ibu ini tidak membawa kunci hotel . Ketiga, ibu ini terkenal panik dari cerita teman sekamarnya. Dari ketiga hal ini, kami meragukan kalau si Ibu akan kembali lagi ke hotel.

Akhirnya kami membuat tim untuk berpencar mencari si Ibu x ini sebamyak dua orang per tim. Kami hanya mencoba mencarinya di sekitar thawaf ini saja. Berharap si ibu ada di suatu posisi sedang menunggu kami datang menghampirinya. Ada tim yang menyusuri arena thawaf dan ada yang pelatarannya saja. Total selama setengah jam kami mencari dan hasilnya nihil.

Teraesat di masjidil haram bukanlah perkara yang mudah. Mesjid ini sangat besar sekali. Dan ini pertama kalinya  ibu x menginjakkan kaki di Mekkah. Tidak ada pengeras suara seperti di mall mall Jalarta untuk menginformasikan jika ada anak atau barang yang hilang. Bukan, ini Mekkah bukan Jakarta.

Akhirnya Pak Ustadz berharap jika ada dua penyelesaian yang bisa dilakukan si Ibu x ini. Pertama adalah kembali ke hotel. Kedua adalah bergabung dengan jamaah lain dan berusaha menghubungi kontak person yang ada di ID card yang kami kenakan. Pak Ustadz pun sudah mewanti wanti orang yang menjadi CP di ID card tersebut jikalau si Ibu x itu nanti menelepon.

Karena sudah semua usaha kami lakukan dan setengah perjalanan umrah. Kami pun akhirnya sepakat melanjutkan kembali untuk ber-Sa'i. Melanjutkan umrah. 

1 comment:

  1. Dikira k andra yg ilang pas umrah, hehe.

    Kebayang kl jd si ibu dgn watak demikian, riweuh pasti ya. Terus akhirnya gimna? Ibunya berhasil kembali ke rombongan?

    ReplyDelete