Monday, March 19, 2012

Memelihara hewan (part 1)

Sebelum melanjutkan posting bercengkrama dengan orang luar atau meet with the other citizen, saya mau memotong dulu. Kali ini ceritanya tentang binatang. Dari kecil, saya sudah banyak makan asam garam mmelihara binatang (lebih tepatnya membiarkan). Waktu kelas satu SMP saya memelihara burung parkit.

Rasanya seneng aja. Ada yang kuning, hijau, putih, dan biru. Bunyinya juga seru aja, berisik imut lah.. Hobi ini gak bertahan lama. Kesel, karena ni burung gak bisa dielus-elus atau kasi makan dari tangan langsung. Hmm.. yasudah, rasanya tidak sampai setahun, saya bosan dengan burung ini.

Kemarin, saya iseng lewat Deptan dan melihat ada pameran dari masing-masing dinas disana. Lalu ada festival ayam dan lainnya. Salah satu stand membuat saya terkejut. Stand itu menjual burung yang tidak disangkar. Oow... How can?



Kata youtube memang bisa sih. Tapi masa tega, jual burung yang udah sangat jinak ke customer.



Ternyata, bulu paling ujungnya digunting setahun sekali. Hal ini dimaksud untuk dilatih akrobat burung oleh pemerintah DKI. Jadi si burung bukan hanya bisa dilihat semata di sangkar. Ya this kinda two sides of coin. Seru memang bisa lebih akrab sama peliharaan sendiri, tapi gak kasian kalo dia liat burung lain bisa terbang???

4 comments:

  1. hihih,,, dirumah saya beraneka macam brung,,, lucu

    ReplyDelete
  2. sedih deh inget burung peliharaan gw yg dulu dimakan kucing :'(

    ReplyDelete