Saturday, December 1, 2018

Medan Kala Kini

Terkadang kita bepergian tidak menentu apa yang akan terjadi, siapa akan bertemu, atau mungkin tidak akan kembali. Ketika dua hari yang lalu, tanggal 26 dan 27 November 2018 saya memilih untuk ke Medan dan berada pada salah satu maskapai selama sekitar 120 menit. Hati ini terasa tidak tenang. Mungkin karena faktor bertambahnya usia juga, saya rasakan lebih khawatir untuk menjadi terkahir kalinya bisa hidup. Mengenang beberapa pekan lalu, salah satu pesawat jatuh dan hancur menghantam laut di daerah Karawang.
Display Rumah di Kuala Namu
Beruntung saya mendapatkan maskapai yang memiliki fasilitas layar televisi dengan tayangan film layar lebar. Kekhawatiran saya menjadi semakin berkurang pastinya. Terlebih rasa kesal ketika pesan sayang kepada seseorang tidak dibalas sebagai semestinya sesuai ekspetasi saya. Untungnya, pilihan saya menonton Tomb Raider, dimana rasanya bak menonton demo games di Play Station zaman dahulu kala, sangatlah sesuai. Filmnya cukup menarik, story line nya dapet, dan actionnya pun gak lebay. Tepat ketika pesawat akan landing, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus.

Kota Medan yang sekarang tentunya jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun yang lalu. Bandaranya baru, kereta bandaranya lebih moderen, berkelas, dan keren. Bahkan dibandingkan Jakarta pun tidak bisa. Penerangan di pusat Kota Medan ssudah semakin gemerlap. Dulu jalanan Medan kesannya tidak aman. Banyak jambret dan maling. You name it. 

Yang asik dari perjalanan apa pun kalau buat saya adalah bisa bertemu kembali dengan orang orang tersayang (tali kasih kali...).  I believe that silaturahmi bisa memperpanjang usia. Ya mana tahu bukan usia fisik tapi doa karena kalau kita meninggal jadi keinget dan didoain (kali ya..). Mostly mereka adalah kerabat dekat yang dimutasi oleh perusahaannya ke provinsi lain.

Kalau ada yang keberatan dibawain oleh oleh. So far gua malah seneng menawarkan diri bawain mereka item yang mereka pengenin dari Jakarta. You can get anything in Jakarta from other regions or province, even country. Misal kalian lupa atau kekurangan bawa oleh oleh, get your ass to Toko Nusantara yang ada di jalan Ahmad Dahlan. I am pretty sure enough mereka bisa handle item yang lo butuhkan. Selama makanannya dari Indonesia ya. Beda banget kalo kebalikannya. Kadang bawa oleh oleh dari Jakarta yang murah meriah agak membingungkan ya. Makannya akhir kata banyak yang bawa roti boy banyak banyak di bandara karena udah bingung mau bawain apa ke rumah (its just in my head si...)

Membagi waktu dengan orang orang tersayang di kala kerja menurut gua lebih efektif daripada memang time frame yang lo pakai adalah untuk liburan. Kenapa? Dengan nyambi kerja, biasanya jadwalnya lebih tight sehingga alokasi waktu untuk bertemu jadi lebih ada. Eventhough itu cuma sebentar yang penting judulnya ketemu.

Let's say ilustrasinya kalian memang liburan. Terus nyocokin waktu mau ketemuannya pasti ada rasa gak enakan karena satu dan lain hal. Belum lagi ada rasa pengen menjamu atau dijamu atau saling menjamu yang mana belum pasti sama sama saling enak. Terutama kalau gak deket deket banget ya. Sehingga bisa jadi malah ngerepoti.

Kalau di Medannya sendiri udah enak ya kalau mau beli makan atau oleh oleh. Tinggal pesan pakai aplikasi online dan semuanya tiba di depan mata. Kemarin baru aja coba Durian Ucok dengan teknik minum dari batok dan cuci pakai kulit supaya tangannya gak bau duren. Nyicipin Risol Gogo dua hari in  row karena hari pertama dikudap tanpa saus. Makan Mie Legenda yang enaknya mungkin pada zamannya. Dan terakhir makan seafood di JImbaran resto dua hari berturut turut.

Belum puas kulineran di Medan. I am pretty sure must do it again next time!


Durian Ucok






No comments:

Post a Comment