Sunday, September 18, 2016

Penang dan Malaka (Wisata Kota Tua)

Penang

Perjalanan saya ke Penang dari Soekarno Hatta totally memakan waktu 12 jam (yang saya kira tidak selama itu). Padahal penerbangan langsung Jakarta Penang sebenarnya ada, tapi karena tripnya mau digabung dengan Malaka, jadinya penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur-Jakarta yang saya beli. Padahal trip kali ini, saya mengajak ibu saya sendiri dimana sebelumnya beliau belum pernah saya ajak ke tempat yang serba gimana ntar pas disananya.

Setelah browse sana sini, tidak ada bus menuju Penang dari bandara KLIA  Jadi saya harus transit ke terminal lain dan membeli tiket lagi ke Penang. Total waktu perjalanan dari KLIA menuju penang adalah 7 jam kala itu. Setelah sampai Penang, saya pun kaget karena pemberhentian terakhirnya bukanlah di pusat kota yang lebih dikenal dengan Komtar (Kompleks Tun Abdul Razak). Melainkan di Terminal Sungai Nibong . Setelah bertanya ke penumpang satu bus, kami harus  pindah ke bus lokal lain. Lagi-lagi, dari Sungai Nibong plus menunggu busnya datang menghabiskan waktu sampai hampir satu jam (Cape deeh...) 

Setelah tiba di Komtar, kini tibalah mencari hostel yang sudah dipesan sebelumnya. Dengan kecerobohan tidak terlalu research sebelumnya, ditambah dehidrasi, dan lapar. Jadilah saya berputar putar mencari hostel yang seharusnya bisa dicapai dengan waktu 5 menit menjadi 45 menit. Itu pun sudah dengan modal wifi gratisan di Komtar dan bertanya tanya, tetapi (mungkin) karena sudah teler dan tidak map-able serta hafal jalannya masyarakat lokal (yang saya tanya) akhirnya membuat saya takdir 45 menit itu terjadi.

Begitu sampai di Hostel yang bernama Apollo, kami shalat dan bergegas cari makanan yang bener di luar hostel. Ternyata ada night market kecil kecilan di sebelah Komtar yang menjajakan makanan lokal. Pikiran pendek kami, karena yang menjual pakai Jilbab, sudah pasri makanannya halal. Jadilah saya dan Ibu saya memesan char kwe tiaw udang dan sate ayam yang rasanya, biasa aja.

Hari masih menunjukkan pukul 21.00, tetapi toko toko sudah mulai banyak yang tutup. Begitu juga dengan cendol yang terkenal di dalam satu Mall Komtar. Ealah, di dalam mall saja sudah tutup. Jadinya mati gaya kan, dengan badan yang udah capek tapi masih mau jalan jalan malam. Ditambah lagi, mall di sekitaran Komtar bagai mall semi ITC dan kurang banyak tenant yang menarik minat untuk dimasuki. Akhirnya kami mencoba jalan melihat area di sisi lain hostel ke arah George Town. Sekitar 500 meter, ternyata denyut kehidupan malam ada disana dengan banyaknya pedagang kaki lima yang menjajakan chinese food yang pastinya non halal.

Perbedaan wisata kuliner malam jalanan Penang dengan Saigon cukup signifikan. Wisata sekelas ini kalau di Saigon sudah banyak berjejer kursi kursi bakso plastik dengan pemandangan bule bule yang sedang asik mimi mimi alkohol sambil bercengkerama. Diiringi musik musik disko kelas menengah yang berajep ajep. Dimana pemandangan ini tidak saya lihat kemarin di Penang. Mungkin karena disini lebih memegang budaya timur kali yaa. 

Lelah karena sudah disiksa perjalanan 12 jam ditambah tidak bisa ngemil makanan jalanan tadi kami pun langsung pulang ke hostel untuk menyambut jalan jalan di kota tua besoknya. 

***

Sarapan pada keesokan harinya pun menarik, ada tiga jenis makanan sesuai ras yang saya lihat. Sajian eropa dengan roti dan sereal. India dengan roti canai dan kari. Asia dengan nasi goreng dan sosis. Sajian penutupnya yang merupakan buah potong, puding, dan jajanan pasar berbahan dasar nasi ketan juga ditampilkan dengan garnish yang colorful.

Kenyang mengisi perut pagi itu, kami langsung berjalan jalan di kota tuanya yang lebih dikenal dengan George Town. Pagi itu kami hanya memiliki waktu 3 jam untuk keliling kota karena akan pindah hostel. Setelah saya lihat peta dan pelajari, total waktu tersebut tidak akan cukup kalau harus berjalan kaki untuk mengunjungi landmark yang ingin dilihat. Akhirnya saya memutuskan untuk sewa sepada yang ada di Armenian Street. Sepedanya dilengkapi dengan keranjang di depan dan gembok untuk menguncinya. Si penjaga sewa sepeda itu pun memberikan saya peta baru yang lebih lengkap. Selain ada penunjuk landmark yang lebih komplit, peta itu juga dilengkapi dengan lokasi mural mural yang menjadi ikon Kota Penang. 

Naik sepeda di Penang menyenangkan jika kamu bukan orang yang maniak hunting foto (karena beberapa jalannya cukup sempit dan ribet parkirnya). Ditambah, semakin siang, matahari semakin panas. Apalagi, lokasi satu mural ke mural lain atau antara landmark juga agak berjauhan lho. Walaupun perkiraan asal asalan saya, dengan waktu 8 jam semua landmark dan mural sih bakal kejamah dengan jalan kaki. Asal tidak sampai ke Batu Ferringhi atau Bukit Bendera. 

Yang lucunya karena saat ini sedang demam permainan Pokemon Go, Saya ketemu mural yang dipermak seperti mural disamping, petugas keamanan memenag poke-ball. Walau jadinya tidak otentik, tapi perlu juga sih untuk update sesuai dengan trend masa kini.

Perlu diketahui, di setiap mural tidak dilengkapi dengan keterangan judul, cerita, dan pembuatnya. Kalau nggak ikut walking tour (yang mahal) dan tidak browsing sebelumnya, salah satu cara menyiasatinya adalah dengan membeli satu paket souvenir magnet murral. Kalau tidak salah harganya hanya 15 ringgit. Di belakang setiap magnetnya sudah dijelaskan cukup komplit cerita dari masing masing mural. 

***

Beres check out, kami harus pindah hotel ke Batu Ferringhi yang jauhnya 40 menit dengan menggunakan bus umum dari Komtar. Setelah makan siang dengan gragas di Danish Briyani dengan porsi raksasa dan rasa maknyus (Walaupun katanya di Indian village banyak yang lebih enak dan murah siih), kita cabut lagi ke Khek lok si temple yang lagi lagi ngelewatin komtar dulu (gak praktis ya).

Begitu sampe di kuil itu, kita harus masuk lewat kios kios souvenir yang jam empat udah siap siap mau tutup (AGAIN....!!!). Tempatnya pun rada spooky cenderung bronks. Kami harus masuk ke kuil melalui gang yang agak lembab, gelap, dan kurang penerangan padahal hari masih siang. Dengan lapak lapak yang agak kumuh, sedang ada perbaikan di sepanjang jalan masuk, dan pengemis yang duduk nongkrong semakin membuat kami merasa tidak begitu nyaman. 

video
Suasana Masuk Ke Kuil

Begitu sampai di pelataran kuil untuk ambil foto, tidak lama kami mendengar bunyi gong dipukul dari dalam kuil. Suasana kuil yang tidak ramai kala itu membuat kuil ini seakan jadi mistis,, Hiii.. Kami pun sepakat untuk tidak berlama lama untuk kembali saja sebelum gang tadi menjadi lebih gelap dan lebih mengerikan.

Malamnya, kami menyusuri night market yang ternyata ala ala Blok M banget di sepanjang jalan Batu Ferringhi. Dan mencoba makan di Long Beach Cafe yang lebih tepat disebut food court, tapi banyak makanan halal dan lumayan enak.

Malaka

Besoknya, kami menuju Malaka dengan naik pesawat yang beli dadakan menuju Kuala Lumpur. Karena kami sudah kebayang telernya jika harus naik bus ke Malaka yang berarti 6-7 jam di perjalanan.

Nah, enaknya pergi ke Malaka dari Kuala Lumpur, ada bus Trans Nasional yang berangkat dari bandara. Sebenernya waktu ideal perjalanannya adalah 2 jam, tapi kalau macet katanya bisa molor sampai 3 jam.

Hostel kami berada di jalan laksamana Cheng Hoo. Eh, begitu sampai receptionistnya adalah anak yang baru kerja. Udah nggak ada tourist map, wifi putus nyambung, dan anak baru juga tidak tahu kemana jalan menuju pusat turis berada, Gubrak!!! Dengan model peta yang saya sempat screen capture dari google dan mengandalkan insting, akhirnya kami berjalan kaki saja dari hostel. Sekitar 20 menit akhirnya bangunan bangunan lama mulai terlihat sepanjang jalan. Oya, mungkin karena sudah ditetapkan menjadi Unesco Heritage City, bangunannya dilengkapi dengan tahun pembuatan pada atap bangunan. 

Konon yang sekarang jadi toko kelontong ini dibangun tahun 1927
Lima menit kemudian saya sudah melihat komplek Heritage Town Malaka yang dimulai dengan gereja dan deretan bangunan berwarna merah cenderung pink dan di tengahnya berdiri Gereja Notre Dam serta berbagai museum yang (lagi lagi) sudah tutup karena jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Sungai yang membentang di kawasan ini mengingatkan saya dengan Clark Quay nya Singapura. Yang padahal Kota Tua kita juga bisa harusnya jika dari dulu dijaga dan dirawat dengan baik.

Di sekeliling gereja tersebut, hiburan turis yang wajib dikunjungi sudah ada di kiri kanan jalan. Jadi tidak usah repot repot mencari cari. Bahkan katanya untuk yang datang pagi hari saja sudah bisa thawaf di keliling kotanya dalam waktu 6 jam jika tidak mampir ke museum museum.

Malaka di malam hari sangat romantis karena sungai dan pendar lampu lampu di sepanjang sungai. Ditambah dengan deretan bangunan lama yang dijadikan hotel yang terawat dengan baik menambah nilai jual kota kecil ini. Asiknya kalau jalan jalan di Malaka malam hari adalah dengan ikut tur keliling sungai (karena kalau siang panas). Sayangnya saat saya kesana, mereka sedang ada perbaikan di satu jembatannya. Hingga dengan harga yang sama, saya hanya disuguhi 15 menit, yang harusnya bisa sampai 40 menit.

Setelah kurang puas karena gagal naik kapal, kami kembali ke hostel untuk istirahat. Eh, yang jadi resepsionisnya sudah ganti pegawai. Dia pun mengompori saya untuk nonton kembang api nanti malam dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Malaysia yang jatuh di tanggal 31 Agustus. Ibu saya yang ternyata kepo juga (padahal udah capek), akhirnya ikut juga nonton kembang api. Pas berangkatnya kami naik grab car dengan santai. Pas sampai lokasinya ternyata salah lokasi sehingga pindah ke lokasi yang saya tidak tahu jalan pulangnya.

Perayaan malam menyambut hari kemerdekaan di Malaka dipimpin dengan pidato, doa, dan sorak sorai dari masyarakat setempat. Kemudian muncul deh kembang api yang, biasa aja sih dan cuma sebentar sekitar lima belas menit. Baru deh, setelah selesai nonton kembang api semua penonton pulang dengan tertib semuanya. Lalu saya mulai deh panik dan bingung gimana pulangnya. Bermodal dapet wifi gratis yang putus putus dan nanya nanya, akhirnya kami pulang dengan berjalan kaki lagi ke hostel dengan total waktu 45 menit.

Keesokan paginya kami datang kembali ke old town dan melihat pawai masyarakat yang berasal dari berbagai instansi. Ada yang dari sekolah, dinas pemerintahan, dan lain lainnya. Suatu kesempatan yang (mungkin) cuma terjadi setahun sekali ini cukup membuat perjalanan ke Malaka cukup berkesan (walaupun belum naik river cruise nya)

Pakai helem motor pun jadi, sip!

Advice untuk quick traveler

Untuk pelancong yang punya keterbatasan waktu, ada baiknya mengambil penerbangan langsung kesana. Kemudian, jika tidak suka kebingungan, lebih baik beli nomor sana saja. Selain lebih bisa mendapatkan akses mudah selain untuk upload pamer di socmed, lebih murah memesan grab dibanding taksi lokal yang harus tawar menawar ditambah mobil yang jauuuuuh lebih tua dibanding taksi di Jakarta. Terutama di Malaka yang sepertinya memang belum disediakan peta untuk turis (mungkin) karena saking kecilnya old town di sana.

1 comment:

  1. cool andra...memberikan inspirasi untuk jalan-jalan kesana nanti..Aamiin

    ReplyDelete