Tuesday, April 1, 2014

Wisata ke Pekanbaru-dan Siak

Sering kali orang hanya mengambil destinasi favorit untuk jalan jalan. Seperti Bali, SIngapura, Jogja, Medan, dan Lombok. Memang sih yang namanya destinasi favorit itu lebih banyak spot yang bisa kita kunjungi, selain penduduknya juga sudah lebih siap menerima turis dari segi akomodasi dan transportasi. Kalau pemerintahnya tidak menyediakan, penduduknya dengan sigap akan mengadakan sewa jasa rental mobil atau travel.

Lain halnya dengan saya yang menyukai destinasi yang terkadang tidak mainstream. Sebut saja Pekanbaru dan Siak di bagian Barat Indonesia. Kebetulan, ada dua teman saya yang tinggal disana. Merekapun beberapa kali menanyakan keseriusan saya bekunjung ke provinsi yang kaya akan budaya melayu tersebut. Katanya, nggak salah lo mau kesini? Atau mending bayarin tiket gua ke jakarta aja. Penolakan penolakan seperti itulah yang saya dapet.

Dua pekan sebelum saya berangkat, kebakaran hutan melanda Riau. Asapnya bahkan bisa kelihatan hingga Singapura dan diikuti dengan baunya juga. Sempet dag dig dug, apakah saya akan berangkat atau tidak. Mengingat bandara beberapa kali tutup karena alasan keselamatan penerbangan. Sudah gitu, gak asik banget kalau liburan mesti bersesak dengan asap menggunakan masker. Mungkin lebih tepat disebut liburan berbagi kesedihan. 

Beruntung karena mungkin, SBY juga sudah datang jadi dibuatlah hujan hujan buatan dan segala macam cara untuk mengurangi titik api di hutan Riau. Jadi tiga hari sebelum saya berangkat, bandara udara sudah dibuka dan saya tidak mencium aroma asap sama sekali ketika sampai. Yang lucunya, ternyata rumput rumput di Riau masih hijau, sedangkan di Singapura rumputnya sudah kering hingga kuning kecokelatan. Ada apa gerangan ya?

Day 1
Begitu sampai di Bandara, kami langsung dikejutkan dengan power supply bandara yang mati nyala. Sehingga pengambilan koper sempat tertunda beberapa menir. Haduh, padahal ini bandara baru lho Bapak Ibu Gubernur. Masa mau go international masih suka mati listrik, piye toh.

Yang namanya bandara baru, pastilah bersih dan masih bagus. Bentuknya tidak jauh beda dengan bandara udara yang berada di Berau, Kalimantan. Semoga perawatannya berjalan dengan baik, jadi gak cuma bisa buatnya aja.

Dari bandara, kita langsung menuju masjid Annur di tengah kota Pekanbaru. Sebelumnya kami melintasi tugu 0 km dan perpustakaan nasional yang sangat besar. Sekilas kota Pekanbaru cukup rapih dibandingkan dengan Jakarta. Dan tampaknya modernisasi akan mulai menyambangi kota ini dengan mulai maraknya dibangun pusat perbelanjaan.

Mesjid Annur yang berwarna hijau memiliki bangunan yang cukup luas. Mesjid ini bisa menjadi ikon dari kota pekanbaru. Btw katanya kota ini memang dijuluki 1000 mesjid sih. Tapi tidak heran begitu saya mau ke toilet, perawatannya sangat minim dan cenderung tidak layak dengan tampilan luarnya. Di dalam mesjidnya pun tidak dibuat sejuk sehingga jemaat mau berlama lamaan tinggal di mesjid. Hmm kenapa ya?

Selesai beribadah, kami langsung makan sate padang dan meninggalkan kota Pekanbaru menuju Siak dengan waktu tempuh dua jam perjalanan menggunakan mobil pribadi. Pemandangan menuju siak dipenuhi dengan pepohonan kelapa sawit dan pipa besar yang mentransfer minyak dari satu lahan ke company atau dari satu bagian pabrik ke pabrik yang lain. 

Siak merupakan salah satu kabupaten dengan beberapa desa di dalamnya. Kami tercengang ketika melintasi jembatan siak yang memiliki dua bangunan di atasnya. Konon bangunana tersebut dahulu bisa dinaiki dengan lift. Tetapi sekarang tidak. Padahal kalau kita bisa ke atas sana, bisa menjadi daya tarik dan penghasilan tambahan untuk daerah ini kan?

Hari pertama diakhiri dengan makan masakannya Mak Tung, bebek tumis, sayur tempe, dan ikan goreng kering. Bebeknya ajib banget, gak ada yang keras atau alotnya sama sekali. Tapi kayaknya berhubung gua kurang tidur, gua agak kehilangan nafsu makan saat itu. Rasanya badan minta diistirahatin tapi pikiran sama perasaan seneng terus jadi belom bisa dibawa tidur cepet.

Oya, Maktung itu bukan nama rumah makan, tetapi nama lain dari Nenek teman saya. Saya pernah bertemu beberapa tahun silam di Bogor. Beliau sepertinya sudah sangat plek dengan tempat yang sangat jauh dari hingar bingar keruwetan metropolitan. Usahanya bertahan dari sistem transmigran membuahkan hasil yang sangat berlimpah saat ini. 

Hari yang melelaghkan itu, kita tutup dengan tidur cepet tanpa ba bi bu.

Day 2
Hati inilah kita mulai jalan jalan wisata di Siak. Jadi Siak ini punya beberapa lokasi wisata seperti Istana Siak, kolam hijau, beberapa makam, masjid (lagi), dan jembatannya. Istana Siak merupakan istana kerjaan pertama Melayu. Gak heran, bentuknya sangat sederhana dan jauh dari kerumitan arsitektur yang ada di Istana istana Eropa.

Sebelum kita jalan ke Istana, kita mampir dulu ke museum budaya Siak yang baru aja direnovasi. Lokasinya berada di sebelah pelabuhan sungai Siak. Gua dan temen temen terkagum dengan koleksi dan penataan interior yang ada di museum ini. Yang anehnya, kenapa gak dipungut biaya apa-apa ya? Dan juga pengawasannya gak ketat. Khawatir banyak tangan tangan jahil nantinya yang bakal nyolek dan ujungnya bikin ngerusak.


Eksterior balkon ini juga masih sama kayak zaman dulu kala. Foto yang di kiri saya ambil di salah satu dokumentasi yang ada di Museum Siak. Nah kalau pemandangan yang ada di hadapan tangga bisa dilihat di gambar yang ada di bawah



Voila,kita bisa melihat aliran sungai yang membentang. Sungainya masih bersih dan gak ada bau bau yang aneh. Kebuh yang hijau dengan langit yang biru sangat mendukung suasana asri Museum Siak ini. Beberapa menit sekali kapal kapal yang mengangkut barang barang melintasi kapal ini. Saya jadi terbayang betapa serunya kalau ada wisata kapal yang di dalamnya ada jamuan makannya. Sepertinya menarik sekali untuk daya tarik wisata.


Setelah dari Museum Budaya Siak, saatnya kita pergi ke Istana Siak. Konon kata temen saya, seharusnya ada istana lagi. Dimana istana itu tidak kasat mata. Hadeh, ini percaya gak percaya sih pas dia cerita begini.

Istana Siak cenderung bersih, koleksinya bagus, rapi, nyaman berac, serta memiliki banyak  staff di dalamnya. Kalau saya bandingkan dengan istana Maimun Medan lebih bagus kemana mana. Di dalamnya banyak sejarah yang bisa kita pelajari. Dari mulai silsilah kerajaan SIak, perabotan, dan perjuangan mereka membantu
kemerdekaan Indonsia.

Wisata kuliner yang ada di SIak tidak begitu banyak daya tariknya. Lets say belum aja deh. Di beberapa tempat menyajikan lempok durian sebagai buah mata yang bisa dibawa pulang. Sedangkan saya hanya mendengar dengar, ada gulai udang yang enak di Siak. Letaknya tidak jauh dari Istana berada. Akhirnya kita sempat sempatin bertandas ke rumah makan tersebut.

Rumah makan yang khusus menjual hidangan kgas melayu tersebut menjual aneka makanan yang cukup bersanten. Gulai udang dan cuminya memiliki rasa bumbu yang sangat enak. Sayang tidak diikuti dengan kesegaran cumi dan udangnya. Bisa jadi sih, mungkin turnover pembelinya tidak begitu banyak. Tapi bumbunya nampol dan sangat meresap. Dan selain ada gulai udang, ada juga udang bakar yang diambil dari sungai siak. Bentuknya sangat besar, rasanya enak, walaupun isinya kedikitan hehe. Inilah satu satunya restoran yang menjadi primadona menurut saya.

SIsanya, di pinggiran jalan hanya menjual jajanan makanan yang bisa didapatkan di Jawa seperti nasi padang, bakso, tahu brintik, mpek mpek dan lainnya. Makanan yang paling saya inget adalah bebeknya Maktung di hari kedua yang di goreng ulang. Kulitnya tebal dan sangat krispi. Astaga, itu nampol banget lemak dan juiciynya. Gak ada alotnya sama sekali lho.. Jadi pingin makan bebek, hehe.

Hari kedua diakhiri dengan tidur too early, jam 9 karena semua peserta tewas gak betenaga,

Day 3
Saatnya kita kembali ke Pekanbaru dengan menggunakan kapal feri lewat sungai. Waktu tempuhnya sekitar dua jam. Dan begitu sampai di Pekanbaru, kita langsung cuss ke tempat oleh oleh import Malaysia yang suka menjadi bahan oleh oleh. Agak miris juga sih melihat oleh oleh Riau yang masih minim (Yang paling favorit lempok durian). Saya uda coba dodol tape ketan, rasanya cukup enak. Tetapi belum bikin nagih.

Selain itu juga ada pasar bawah yang menyediakan makanan kiloan. Dari berbagai macam makanan, saya paling suka dengan sale pisangnya. Entah kenapa rasanya lebih manis legit dan enak. Kalau berkunjung ke pasar bawah jangan lupa deh coba sale pisangnya. Dijamin gak nyesel hehe.

Nah begitu selesai beli oleh oleh, kita bingung dan bengong mau ngapain lagi. Alhasil kita ngabisin waktu dengan nonton film yang ada di salah satu bioskop PKU. Cara ini efektif untuk menyimpan energi keesokan hari. Maklum besoknya harus banting tulang lagi.

Sekian perjalanan saya ke PKU dan Siak.

5 comments:

  1. waaa.. naik kapal feri di sungai~~~~

    btw, ini sengaja buat liburan ya? agak anti mainstream sh memang. hehe. tapi
    seru bgt ini kayanya >..<

    lanjutkan nulis dan jalan2! #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ernaa.. banget mainstreamnya, tapi jadi tahu lah rumah temen gw di daerah yang besar potensinya ini.. hehe.. sama erna juga keep writing

      Delete
  2. Ndra, sepertinya perlu koreksi untuk kalimat ini "Sebut saja Pekanbaru dan Siak di bagian Timur Indonesia" dengan "bagian Timur Pulau Sumatera" ?

    ReplyDelete
  3. temen lo yang di siak itu pasti keren banget yah

    ReplyDelete