Thursday, January 10, 2013

26 Desember 2012 itu bukan tsunami (1)



Setelah sekian lamanya fisik dan mental lelah karena pekerjaan, pastinya ada waktu dimana kita bisa beristirahat waktu liburan. Beberapa hari setelah saya mencoba bekerja di lokasi baru, saya diliburkan pada hari natal. Rasanya back to normal common life. Liburan bersama-sama dengan orang pada umumnya. Walau impian saya adalah liburan setiap hari tanpa harus bingung menghemat hemat uang (curcol). Biasanya, sehabis libur yang bertugas shift akan masuk shift pagi dahulu untuk beberapa hari. Nanti diakhiri shift sore dan libur deh.

Masuk pagi pada tanggal 26 Desember adalah bagian saya saat itu. Seperti biasa, saya datang satu jam sebelum jam masuk diberlakukan karena saya yang memegang kunci pintu masuk. Selain itu, masuk lebih awal memberikan saya waktu yang lebih leluasa untuk melakukan segala sesuatu hal lebih terperinci serta tidak buru buru. Alasan lain adalah, berangkat lebih awal di Jakarta menghindari kamu dari kemacetan yang belum kunjung usai.


Semua orang yang bertugas pagi masuk melewati pintu belakang kantor. Sebelum saya masuk, dilakukan pemeriksaan tas dan pemotretan oleh security. Saya jadi berpikir apakah ada kasus pencurian akhir akhir ini? Tidak berlama-lama saya langsung melenggang kangkung masuk ke dalam kantor.

Pukul 07.02 saya melakukan aktivitas dengan santai-santai saja. Detik, menit, dan jam berlalu saya bekerja. Beberapa pegawai lain juga sudah masuk. Hingga waktu menunjukkan pukul 09.00, seorang pegawai bernama Dina meminta izin untuk membuka brankas kantor. Setiap paginya, brankas harus dibuka bersama-sama untuk memeriksa uang. Nantinya uang tersebut akan didistribusikan ke kasir-kasir yang ada di counter. Akhirnya bersama-samalah kami membuka brankas.

Seketika, sekejap, tidak lama, saya langsung bergidik mencari yang sales tanggal 25 Desember. Seharusnya uang yang tersedia di brankas ada dua yaitu tanggal 24 dan 25 Desember. Dina pun panik seketika, merasa sangat takut. Saya pun juga panik, kenapa begini jadinya? Akhirnya, kami mencoba menghubungi karyawan yang bertugas pada malam hari menutup brankas. Mereka mengatakan bahwa sudah menyimpan di brankas, menguncinya,  dan menutup rapat-rapat semua pintu. Bertambah lagi kebingungan, saya langsung memeriksa semua isi brankas hingga dibaliknya dengan menggunakan senter. Hasilnya? Nihil.

Akhirnya saya langsung menelepon atasan saya mengenai kondisi ini. Spontan, dia juga kaget. Karena dia telah melakukan sesuai dengan prosedur. Beliau pun langsung menyuruh saya menghubungi presiden kantor ini. Saya mencoba telepon dan bbm namun tidak aktif. Telepon rumah beliau pun tidak ada di list nomor telepon. Di lain pihak, petugas pengambil uang sales dari bank sudah datang. Selain itu, kantor saya juga harus buka pada pukul 10.00 wib.

Berlanjut ke part 2

2 comments: