Friday, October 23, 2015

Jalur Rempah

Selasa lalu, saya mencoba untuk pergi ke Museum Nasional demi melihat weekly museum yaitu Jalur Rempah. Tepatnya setelah saya selesai melakukan kerja di sore hari. Untuk melihat pameran jalur rempah ini, tidak dipungut biaya. DIkarenakan letak ruangannya yang terpisah dengan Museum Nasional.

Begitu sampai di depan gedung, sudah terpampanglah sebuah display kapal yang terbuat dari kayu. Bentuknya mengingatkan Saya dengan desain perahu zaman dahulu kala yang digunakan entah itu untuk berlaut mencari ikan atau kegiatan mencari nafkah lainnya (distributor rempah kali ya?). Sesampainya di dalam, ada banyak sponsor booth dan satu corner yang dapat kita gunakan untuk melukis. Media yang digunakan adalah kayu bekas pembuatan kapal dan cat (kreatif dan eco friendly sekali ya.. :).

Eksibisi di dalam menceritakan kepada para pengunjung bagaimana awal mulanya ada yang dinamakan jalur rempah. Katanya, jalur rempah sebenarnya adalah jalur sutera. Bahkan yang lebih diperdagangkan dari zaman dahulu adalah rempah bukan sutera. Anyway, menurut KBBI, rempah adalah segala sesuatu bahan makanan yang bisa ditumbuhkan kembali. Jadi semua sayuran dan buah juga bisa dijadikan rempah. Namun, karena daya tahannya yang cepat membusuk, pastilah hanya yang bisa dikeringkan saja yang bisa diperdagangkan.

Nah, rempah yang paling diincar di Indonesia adalah barus. Barus yang kita tahu sebagai kapur barus adalah rempah endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan. Hasil sampingan dari tanaman ini adalah kemenyan yang suka dipakai di ritual keagamaan. Nah, untuk mendapatkan barus yang asli, pohon ini harus ditebang. Namun, tidak semua pohon menghasilkan barus sayangnya. Saat ini Barus menjadi flora yang dilindungi karena jumlahnya yang langka. Zaman dahulu, barus digunakan untuk mengawetkan mumi, dan ekspedisi orang mesir sampai ke Indonesia lho.

Selain itu, ada pala dan cengkeh yang menjadi incaran para negara lain jika bertandah ke Indonesia. Cengkeh afo adalah cengkeh terbaik yang merupakan tanaman dari Ternate dan Tidore. Bunganya yang dikeringkan memiliki aroma yang harum dan pasti dicintai para perokok sejati. Cengkeh afo adalah jenis cengkeh yang terbaik. 

Overall, untuk mempelajari sejarah rempah yang ada di Indonesia. Menurut saya, acara ini patut diacungkan jempol. Namun, jika ingin belajar yang sudah eksis saat ini dan digunakan di masyarakat lokal maupun kearifan lokal, saya rasa masih kurang. Atau mungkin ada, tetapi harus mengikuti seminar maupun jamuan yang harganya tidak murah (sekitar 150.000-350.0000). Mungkin ke depannya, ada yang bisa membuat event serupa tetapi dengan konten yang belum dipakai sebelumnya.

Lovemuseum

No comments:

Post a Comment