Monday, May 27, 2013

Sebuah Essay Komedi Dietetik

Dietetik. Ilmu perencanaan makanan yang satu ini akrab dengan kulinari dan orang sakit. Menunya yang beragam namun kerap dengan rasa hambar tidak disukai banyak khalayak. Dulu, pada saat kami di dapur mempraktikan cara memasaknya kondisinya bak langit dan bumi jika dibandingkan dengan memasak di mata kuliah kulinari. Ibarat kalau kami ada di pentas drama, praktik kulinari panggungnya adalah pasar tradisional. Dietetik berpanggung di rumah sakit bagian ICU. 

Asistennya galak, bercanda tidak diperbolehkan. Yang ada kondisi menjadi seperti kuburan dan tidak bernyawa. Oh menderitanya para mahasiswa saat itu. Layaknya keceriaan masa muda yang direnggut oleh protokoler orde baru.

Itulah kesan yang kami tangkap dari cerita para senior kami. Kalau di-iyakan, berarti kami tidak bisa merubah persepsi. Dengan melonjaknya jumlah mahasiswa sejak angkatan saya hingga 117 orang, bisa diambil kesimpulan watak, kemampuan di dapur, dan tabiatnya lebih dari nano nano. Apalagi kalau dibandingkan dengan angkatan senior yang cuma berada setengahnya.
 Walaupun jurusan kami masih didominasi oleh perempuan, kemampuan di dapur bukanlah menjadi garansi. Bisa saja ada yang terbalik. Laki laki yang pintar meracik makanan, dan perempuan yang bisa memasang gas pada kompor. Semua hanyalah soal pengalaman dan pengetahuan. Toh pada akhirnya kami bisa semua.

Alih alih suasana kuburan dan mencekam kami putar balikkan menjadi komedi pada satu angkatan. Sebutlah Nina yang membuat satu gelas jus jeruk blender dengan menggunakan bijinya. Warnanya yang masih cantik menipu sepuluh mahasiswa yang maruk meneguk segelas jeruk pahit tersebut. 

Ketika makanan kami sudah dinilai
Endang:  Andra, gua aus banget nih. Bagi yah jeruk lu.
Gw      :  Minum aja, tapi kurang manis
Endang: ok (glek, glek) wek....
Gw      : Hahahahaha, coba kasih lah ke yang lain Ndang
Segelas jeruk pahit itu kemudian berhasil menipu 10 mahasiswa lain

Lalu, ada Dono yang membuat satu sajian makanan untuk pasien hipertensi dengan mengganti tahunya dengan misihu atau bola tahu. Padahal entah kandungan apa saja yang ada di misihu tidak ada yang pernah tahu. 

Asisten Rese: Deri (teman sekelompok Dono), kamu pintar sekali, gimana caranya membuat tahu 
                       menjadi bulat?
Deri              : Mm Gimana Don? Elu kan yang beli
Dono            : Beli misihu kak di depan (Dengan semangat)
Asisten Rese: APA ???? (Muncul tanduk)

Santi dan Imam yang selalu menjadi korban bully asisten dalam penilaian presentasi makanan. Menu yang terkenalnya adalah 'Tahu Berenang'. Imam yang kerap dipanggil Mbok karena suka menggantungkan lapnya di bahu ketika bekerja oleh para asisten.

Kesalahan terapi diet antara teori dan pada saat praktek juga kerap dilakukan. Mungkin pikirannya sedang melanglang buana mikirin pacar, organisasi, atau laporan yang seabreg. Ujung ujungnya otak lah yang gesrek pada saat praktikum. Contohnya si Deni yang membuat teh manis untuk pasien diabetes. Mungkin ini jalan yang lebih baik daripada membunuh pasien secara tiba tiba. Kemudian ada Andi yang memasukan buah nanas di menu ibu hamil. Bisa jadi si Andi ingin membuat peran beranak dalam kubur suatu hari nanti.

Cerita cerita tersebut bertukaran dari satu mulut ke telinga lalu buyar kemana-mana. Antara suka dan duka campur aduk. Suka karena menertawakan derita orang dan duka karena masih ada beberapa minggu lagi hingga mata kuliah ini selesai. Sampai sekarang kalau diingat ingat, setiap kelompok pasti pernah kena. Ada yang sayurnya kematengan, ke-gap ngasi royko, ke-gap pake lada di masakan, jorok pas masak, dan lain lainnya. Dan saat ini menjadi memori komedi yang bisa kami kenang.

P.S: Cuma satu nama yang pake nama asli. Yang lainnya tebak sendiri kalo merasa diceritain.

2 comments:

  1. hwaahahhaha, goblok. sapa sih yang beli misihu ndrong?

    ReplyDelete