Jakarta, kota yang bersuku Betawi. Dalam bahasa Belanda disebut Batavi. Sempat waktu saya duduk di Sekolah Dasar, saya tidak mengetahui suku asal dari Kota Kelahiran sendiri. Buat saya, yang melekat dari Jakarta dan mengindonesia adalah bahasa sehari-harinya yaitu 'gua dan elu' dengan adanya film dono kasino indro atau si Doel anak sekolahan (generasi 90's banget). Selain itu, yang mudah dicari adalah kontes Abang None yang melahirkan banyak pemain film atau presenter setelah mengikuti ajang ini. The rest? saya belum tahu?
Saking banyaknya kesenian di Indonesia dan sewaktu di Sekolah belajarnya Pendidikan Lingkungan Jakarta, rata-rata orang banyak yang memandang sebelah mata kesenian Betawi. Dulu pun karyawisata atau jalan-jalan sekolahnya berkisar antara museum yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, atau Lubang Buaya. Entahlah, apa sekolah saat ini menerapkan jalan-jalan ke pusat kebudayaan Betawi yang ada di Ciganjur atau tidak. Nampaknya sih tidak ya. Memang banyak sekali pertimbangan, terlebih si gurunya mengambil andil yang besar untuk jalan-jalan. DIhitung-hitung kan buat mereka refreshing juga. Tapi coba mulai dipikirin deh, betapa harus ditanamkannya budaya Betawi yang menarik sejak anak masih di Sekolah Dasar. Masa, sekolah di Jakarta bisanya hanya menari saman dan main angklung? Ironis sekali bukan?